Menyelami Ketenangan: Perjalanan Pribadi Mencari Kesehatan Mental yang Seimbang

Menyelami Ketenangan: Perjalanan Pribadi Mencari Kesehatan Mental yang Seimbang

Pada awal tahun 2021, dunia sedang menghadapi tantangan besar. Pandemi COVID-19 merubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Sebagai seorang penulis yang biasanya menghabiskan waktu di kafe atau perpustakaan, saya mendapati diri terperangkap dalam rutinitas monoton. Hari-hari berlalu dengan cepat dan semakin terasa hampa. Saya mulai merasakan beban di pundak saya—bukan hanya beban pekerjaan, tetapi juga kegelisahan yang menderu dalam diri. Kesehatan mental saya mulai terguncang.

Tantangan Menuju Keberanian

Di tengah kekacauan itu, ada satu momen spesifik yang masih terbayang jelas di benak saya. Suatu malam, setelah satu hari penuh dengan berita menakutkan dan kesedihan global, saya duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap jendela gelap tanpa bintang. Pikiran negatif terus mengalir; pertanyaan-pertanyaan berputar di kepala saya: “Apakah semua ini akan berakhir? Bagaimana jika semuanya tidak kembali seperti semula?” Saat itulah saya menyadari bahwa tidak ada satupun dari pertanyaan itu yang memberikan ketenangan atau solusi.

Keberanian untuk berubah muncul saat saya menemukan sumber daya online tentang kesehatan mental. Saya mulai menggeluti berbagai artikel dan video tentang meditasi dan mindfulness. Namun seperti kebanyakan orang lain, mengetahui informasi bukanlah langkah mudah menuju perubahan perilaku nyata.

Proses Menemukan Ketenangan

Setelah beberapa minggu mencoba teknik relaksasi sederhana tanpa hasil signifikan—saya tahu sudah waktunya untuk bertindak lebih jauh daripada sekadar membaca teori semata. Di bulan April 2021, dengan sedikit rasa ragu namun didorong oleh harapan akan ketenangan batin yang hilang, saya memutuskan untuk mengikuti retret kesehatan mental di sebuah tempat bernama thegreenretreat.

Pada awalnya rasanya aneh—melepaskan semua gadget dan mundur dari dunia luar selama beberapa hari adalah tantangan tersendiri bagi seseorang yang terbiasa terhubung secara digital sepanjang waktu. Namun saat kaki melangkah ke area retret itu, suasana tenang langsung merasuk ke dalam jiwa.

Saya belajar untuk memberikan waktu bagi diri sendiri melalui latihan meditasi setiap pagi sambil mendengarkan suara alam sekitar—angin berdesir melalui pepohonan dan burung-burung berkicau riang seakan memanggil jiwa yang terluka ini untuk bangkit kembali.

Menciptakan Kebiasaan Sehat

Dari pengalaman tersebut, beberapa kebiasaan baru mulai terbangun dalam rutinitas harian saya setelah kembali ke kehidupan normal. Salah satunya adalah praktik journaling setiap malam sebelum tidur; menuliskan apa yang membuat saya bersyukur atau bahkan apa saja emosi negatif yang perlu dikeluarkan dari pikiran membantu membebaskan diri dari beban mental.

Tidak jarang saat menulis terasa emosional; air mata terkadang tumpah tak tertahan ketika mengenang hal-hal menyakitkan ataupun momen bahagia kecil namun berarti selama perjalanan ini. Tetapi setiap kali menutup buku jurnal itu dengan rasa lega—seolah meletakkan batu besar dari pundak.

Menyimpulkan Pelajaran Hidup

Sekarang setahun kemudian sejak perjalanan itu dimulai, keseimbangan kesehatan mental telah menjadi prioritas utama dalam hidup sehari-hariSaya belajar bahwa pencarian keseimbangan bukanlah tentang mencapai keadaan sempurna melainkan menerima ketidaksempurnaan hidup ini sebagai bagian dari prosesnya sendiri.

Bagi siapapun yang juga mengalami perjuangan serupa seperti yang pernah saya alami: ingatlah bahwa Anda tidak sendirian. Ada banyak cara untuk menemukan ketenangan—dari mendalami aktivitas kreatif hingga menjelajahi terapi profesional jika diperlukan.

Kesehatan mental adalah sebuah perjalanan panjang; kadang melewati jalan berbatu namun sangat layak dijalani demi kebahagiaan sejati kita sendiri serta orang-orang terkasih di sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *