Cerita Sesi Terapi yang Bikin Aku Mulai Percaya Lagi
Awal yang Berat: Ketika Semuanya Terasa Tak Terkendali
Itu terjadi pada Januari 2023, pagi yang hujan kecil di Jakarta Selatan. Aku duduk di ruang tamu yang berantakan, minum kopi tawar yang rasanya hambar, sambil menatap kalender yang penuh jadwal. Tiga bulan sebelumnya aku kehilangan ritme—tidur berantakan, mood naik-turun, dan kerjaan menumpuk. Ada suara di kepala yang terus bilang, “Kamu nggak cukup.” Aku sadar, bukan sekadar lelah. Ini mulai memengaruhi keputusan kecil seperti memilih makan siang dan pergi jalan sebentar.
Di titik itu aku membuat keputusan sederhana: pergi ke terapi. Bukan karena semuanya hancur, tapi karena aku capek bertahan dengan strategi yang sama. Aku butuh sesuatu yang nyata, bukan sekadar motivasi pagi yang hilang setengah hari kemudian.
Sesi Terapi yang Mengubah Cara Pandang
Sesi pertama berlangsung pukul 09.00 di sebuah praktik kecil yang hangat—karpet abu-abu, kursi hijau, tanaman kecil di pojok. Terapisku, seorang pria berumur 40-an, menenangkan dengan nada bicara yang netral. Dia tidak langsung memberi saran. Malah dia bertanya: “Apa yang kamu lindungi dengan kritikan terhadap dirimu sendiri?” Pertanyaan itu menusuk. Aku kaget karena selama ini aku memikirkan produktivitas, bukan perlindungan emosi.
Dia mengajakku melakukan teknik pernapasan box breathing—4 hitungan tarikan, tahan 4, lepaskan 4, tahan 4. Satu menit saja membuat denyut jantung turun. Lalu kami membedah rutinitas kecilku: tidur lewat tengah malam karena scroll, melewatkan sarapan karena rapat pagi, menolak ajakan jalan karena merasa bersalah “buang waktu”. Dia menantangku mengganti satu kebiasaan dalam seminggu. Rasanya kecil, tapi itu percobaan yang aku butuhkan.
Beberapa minggu kemudian, aku ke sebuah retreat akhir pekan untuk menguatkan praktek itu—sebuah tempat yang kutemukan lewat rekomendasi online yakni thegreenretreat. Di sana, ritual sederhana seperti jalan pagi tanpa ponsel dan makan bersama dengan porsi seimbang memberi dampak tak terduga: tubuh dan kepala bisa sinkron lagi.
Praktik Sehari-hari yang Kuterapkan
Aku mulai menguji beberapa kebiasaan, bukan semua sekaligus. Strategi ini bekerja karena mudah diulang. Beberapa yang paling berdampak:
– Box breathing: 1–2 menit sebelum rapat atau saat merasa overwhelm. Efeknya instan—respon emosional jadi lebih terukur.
– “Aturan 1 jam tanpa layar sebelum tidur”: aku ganti scrolling dengan baca buku tipis atau menulis tiga hal yang berhasil hari itu. Tidur jadi lebih nyenyak.
– Jalan cepat 10 menit setelah makan siang: bukan olahraga berat, hanya gerak yang menjaga napas dan sirkulasi. Energi sore naik 20–30% menurut perasaanku (dan jam jam tidurku juga ikut stabil).
– Menetapkan batas: satu email kerja setelah jam 7 malam adalah oke, tetapi aku harus menutup laptop setelahnya. Aku belajar mengatakan “tidak” pada meeting yang tidak prioritas—dan itu melegakan.
Aku juga mulai journaling singkat setiap malam. Cukup tiga baris: apa yang berjalan, apa yang bisa diperbaiki, satu hal yang kuucapkan “terima kasih” pada diriku sendiri. Sederhana, tapi membantu membongkar self-criticism yang selama ini akrab denganku.
Hasilnya: Kepercayaan Diri dan Rutinitas Sehat
Enam bulan kemudian ada perubahan nyata. Tidurku stabil di sekitar 6,5–7 jam hampir tiap malam. Reaksi terhadap email yang menyinggung tidak lagi seperti dulu; aku bisa napas dulu sebelum jawab. Energi kerja tidak 100% setiap hari—tapi konsisten lebih baik daripada sebelumnya. Yang paling penting: aku mulai percaya bahwa perbaikan itu mungkin, langkah demi langkah.
Aku juga belajar satu hal penting: terapi bukan mantra instan. Ini latihan berkelanjutan yang butuh eksperimen dan kesabaran. Ada hari mundur, ada hari lonjakan. Tapi karena aku memasang kebiasaan kecil dan measurable, mundurnya terasa lebih ringan dan lonjakannya lebih lama tahan.
Kalau kamu merasa kehilangan ritme, mulai dari pertanyaan sederhana: kebiasaan mana yang paling menguras energi sehari-hari? Pilih satu untuk diubah minggu ini. Coba box breathing sebelum keputusan besar. Tutup layar satu jam sebelum tidur. Catat tiga hal kecil yang berhasil. Terapi membantuku menemukan arah, tetapi perubahan nyata datang dari praktik konsisten—langkah-langkah kecil yang menumpuk menjadi hari-hari yang lebih sehat dan lebih penuh percaya diri.